-->

John Doe

Engineer

Developer

Freelancer

Coder

Tuesday, September 13, 2016

Merapi
Sudah lama kami ingin bepergian ke luar kota bersama keluarga pada akhir pekan, menginap di suatu tempat dengan pemandangan alam yang indah. Pemandangan yang dapat dilihat dari dalam ruang penginapan, kemudian menghabiskan waktu bersama, menjelajah tempat baru yang belum pernah kami datangi, dan tentunya akan memunculkan pengalaman baru yang bisa diceritakan kembali. Pengalaman yang bahagia pasti diinginkan semua orang,  tapi yang jelek juga jangan dibuang, dikenang saja agar bisa menjadi pribadi yang lebih kuat dalam menghadapi segala masalah di masa mendatang *apasih :D

Meski orangtua sedikit sibuk, tapi liburan keluarga tetap bisa terlaksana \\(^o^)// lumayan lama sih rentang waktunya, terhitung dari rencana (yang aku dan adikku buat) berlibur. Aku dan adikku menamakannya "Misi Liburan Akhir Pekan yang Bahagia" :p
Awalnya hanya iseng-iseng saja ingin pergi ke Yogyakarta, tapi ternyata dikabulkan oleh orang tua //senangnya dalam hati ~(^o^~)

Tepatnya bulan Desember tahun 2012 kami sekeluarga (ditambah keluarga Budhe) berangkat ke Yogyakarta. Saat itu ber-iringan naik dua mobil karena ada delapan orang (termasuk nenek). Berangkat dari Kota Blitar sekitar pukul 8 malam jadi di perjalanan, kami semua tidur lelap, tidak termasuk yang menyetir *yaiyalah!


Aku dan Ibu di penginapan di bawah kaki Gunung Merapi

#esok harinya..
Jengjeenng~ begitu aku bangun sudah sampai di Kaliurang, yaitu jalan menuju Gunung Merapi. Langsung saja kami mencari lokasi penginapan yang telah kami pesan secara online sebelumnya.
Daann.. sesuai dengan ekspektasi dan foto yang ditampilkan ketika memesan penginapan, tempatnya dekat dengan alam dan asri, ditambah lagi berada di dataran tinggi yang membuat udara sejuk serta tidak jauh dari Gunung Merapi, yaa meski kalau kesana harus naik kendaraan.


Pagi yang indah untuk memulai penjelajahan ke Gunung Merapi. Karena medannya yang cukup berat untuk bisa pergi ke sana, kami harus menyewa  mobil jeep. Perjalanan yang ditempuh kurang lebih sekitar satu jam dari tempat penginapan. Memang cukup dekat, tapi karena laju kendaraan sangat pelan makanya jadi lama. Dengan begitu, di sepanjang perjalanan bisa menikmati keindahan alam.


Bersama keluarga di Kaki Gunung Merapi

Banyak cerita dibalik foto. Untuk bisa sampai di bagian puncak, kami harus berdebat dahulu, ada yang setuju dan tidak untuk melanjutkan perjalanan hingga mendekati bagian kawah. Akhirnya perjalanan  tetap berlanjut dan tidak ada tempat yang tidak kami kunjungi, sesuai dengan arahan yang diberikan tour guide kami.

Batu alien salah satu daya tarik di Gunung Merapi

Di atas juga ada rumah Mbah Marijan yang disebut-sebut sebagai orang yang menjaga gunung, atau istilahnya adalah Juru Kunci Gunung Merapi. Saat evakuasi, beliau tidak mau meninggalkan rumah dan gunung yang dijganya. Namun takdir berkata lain, beberapa saat setelah terjadi erupsi Merapi beliau ditemukan dalam keadaan bersujud dan tidak bernyawa, sungguh besar pengorbanannya.

Salah satu rumah warga yang terkena erupsi Gunug Merapi

Banyak dari warga yang tinggal di sekitar lereng Gunung Merapi yang tidak sempat menyelamatkan benda-benda berharga miliknya karena harus segera berbondong-bondong pindah ke tempat evakuasi yang telah disediakan. Foto diatas adalah  bukti bahwa banyak barang meleleh terkena awan panas (wedhus gembel) Merapi. 

Adikku dan Pakdhenya :D

Seharian penuh kami menghabiskan waktu di Gunung Merapi. Setiap kegiatan yang kami lakukan selalu saja ada cerita yang menarik. 
Seperti misalnya ketika berada di perjalanan (naik mobil) obrolan singkat terjadi, dan usut punya usut sang sopir ternyata juga berasal dari kota yang sama dengan kami, dan telah bekerja selama beberapa tahun (mimin lupa :v) dan kerja sama dengan penginapan tersebut, yang akhirnya takdir mempertemukan kami :D

Cerita lainnya ketika membeli topi (yang dikenakan oleh dua model diatas) dan kaos di penjual souvenir, awal mulanya terjadi tawar menawar untuk mendapatkan harga murah, tapi kami menyerah karena penjual sangat getol mempertahankan harga. Ketika akan membayar, penjual bertanya dari mana asal kami, setelah mengetahui kalau kami datang dari Jawa Timur, tiba-tiba ia menurunkan harga dan bahkan masih diberi bonus berupa kue-kue yang dijualnya. 

Masih banyak lagi kejadian-kejadian yang jika dilogika, ternyata semua hal yang kita lakukan itu ada keterkaitannya dengan apa yang pernah kita lakukan di masa lalu maupun yang sedang kita lakukan sekarang. Beberapa peristiwa saling terhubung jika kita mau menelusuri dan berpikir kritis tentang hal itu, tidak sekedar membiarkannya berlalu begitu saja. 

Seperti halnya foto-foto dan video yang mimin abadikan ini, suatu saat akan menjadi sejarah yang sangat menarik untuk diceritakan kembali kepada anak cucu kelak :)













Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna Veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat.

0 comments:

Post a Comment

Contact Me

Tuesday, September 13, 2016

Merapi

Sudah lama kami ingin bepergian ke luar kota bersama keluarga pada akhir pekan, menginap di suatu tempat dengan pemandangan alam yang indah. Pemandangan yang dapat dilihat dari dalam ruang penginapan, kemudian menghabiskan waktu bersama, menjelajah tempat baru yang belum pernah kami datangi, dan tentunya akan memunculkan pengalaman baru yang bisa diceritakan kembali. Pengalaman yang bahagia pasti diinginkan semua orang,  tapi yang jelek juga jangan dibuang, dikenang saja agar bisa menjadi pribadi yang lebih kuat dalam menghadapi segala masalah di masa mendatang *apasih :D

Meski orangtua sedikit sibuk, tapi liburan keluarga tetap bisa terlaksana \\(^o^)// lumayan lama sih rentang waktunya, terhitung dari rencana (yang aku dan adikku buat) berlibur. Aku dan adikku menamakannya "Misi Liburan Akhir Pekan yang Bahagia" :p
Awalnya hanya iseng-iseng saja ingin pergi ke Yogyakarta, tapi ternyata dikabulkan oleh orang tua //senangnya dalam hati ~(^o^~)

Tepatnya bulan Desember tahun 2012 kami sekeluarga (ditambah keluarga Budhe) berangkat ke Yogyakarta. Saat itu ber-iringan naik dua mobil karena ada delapan orang (termasuk nenek). Berangkat dari Kota Blitar sekitar pukul 8 malam jadi di perjalanan, kami semua tidur lelap, tidak termasuk yang menyetir *yaiyalah!


Aku dan Ibu di penginapan di bawah kaki Gunung Merapi

#esok harinya..
Jengjeenng~ begitu aku bangun sudah sampai di Kaliurang, yaitu jalan menuju Gunung Merapi. Langsung saja kami mencari lokasi penginapan yang telah kami pesan secara online sebelumnya.
Daann.. sesuai dengan ekspektasi dan foto yang ditampilkan ketika memesan penginapan, tempatnya dekat dengan alam dan asri, ditambah lagi berada di dataran tinggi yang membuat udara sejuk serta tidak jauh dari Gunung Merapi, yaa meski kalau kesana harus naik kendaraan.


Pagi yang indah untuk memulai penjelajahan ke Gunung Merapi. Karena medannya yang cukup berat untuk bisa pergi ke sana, kami harus menyewa  mobil jeep. Perjalanan yang ditempuh kurang lebih sekitar satu jam dari tempat penginapan. Memang cukup dekat, tapi karena laju kendaraan sangat pelan makanya jadi lama. Dengan begitu, di sepanjang perjalanan bisa menikmati keindahan alam.


Bersama keluarga di Kaki Gunung Merapi

Banyak cerita dibalik foto. Untuk bisa sampai di bagian puncak, kami harus berdebat dahulu, ada yang setuju dan tidak untuk melanjutkan perjalanan hingga mendekati bagian kawah. Akhirnya perjalanan  tetap berlanjut dan tidak ada tempat yang tidak kami kunjungi, sesuai dengan arahan yang diberikan tour guide kami.

Batu alien salah satu daya tarik di Gunung Merapi

Di atas juga ada rumah Mbah Marijan yang disebut-sebut sebagai orang yang menjaga gunung, atau istilahnya adalah Juru Kunci Gunung Merapi. Saat evakuasi, beliau tidak mau meninggalkan rumah dan gunung yang dijganya. Namun takdir berkata lain, beberapa saat setelah terjadi erupsi Merapi beliau ditemukan dalam keadaan bersujud dan tidak bernyawa, sungguh besar pengorbanannya.

Salah satu rumah warga yang terkena erupsi Gunug Merapi

Banyak dari warga yang tinggal di sekitar lereng Gunung Merapi yang tidak sempat menyelamatkan benda-benda berharga miliknya karena harus segera berbondong-bondong pindah ke tempat evakuasi yang telah disediakan. Foto diatas adalah  bukti bahwa banyak barang meleleh terkena awan panas (wedhus gembel) Merapi. 

Adikku dan Pakdhenya :D

Seharian penuh kami menghabiskan waktu di Gunung Merapi. Setiap kegiatan yang kami lakukan selalu saja ada cerita yang menarik. 
Seperti misalnya ketika berada di perjalanan (naik mobil) obrolan singkat terjadi, dan usut punya usut sang sopir ternyata juga berasal dari kota yang sama dengan kami, dan telah bekerja selama beberapa tahun (mimin lupa :v) dan kerja sama dengan penginapan tersebut, yang akhirnya takdir mempertemukan kami :D

Cerita lainnya ketika membeli topi (yang dikenakan oleh dua model diatas) dan kaos di penjual souvenir, awal mulanya terjadi tawar menawar untuk mendapatkan harga murah, tapi kami menyerah karena penjual sangat getol mempertahankan harga. Ketika akan membayar, penjual bertanya dari mana asal kami, setelah mengetahui kalau kami datang dari Jawa Timur, tiba-tiba ia menurunkan harga dan bahkan masih diberi bonus berupa kue-kue yang dijualnya. 

Masih banyak lagi kejadian-kejadian yang jika dilogika, ternyata semua hal yang kita lakukan itu ada keterkaitannya dengan apa yang pernah kita lakukan di masa lalu maupun yang sedang kita lakukan sekarang. Beberapa peristiwa saling terhubung jika kita mau menelusuri dan berpikir kritis tentang hal itu, tidak sekedar membiarkannya berlalu begitu saja. 

Seperti halnya foto-foto dan video yang mimin abadikan ini, suatu saat akan menjadi sejarah yang sangat menarik untuk diceritakan kembali kepada anak cucu kelak :)













No comments:

Post a Comment

Tuesday, September 13, 2016

Merapi

Sudah lama kami ingin bepergian ke luar kota bersama keluarga pada akhir pekan, menginap di suatu tempat dengan pemandangan alam yang indah. Pemandangan yang dapat dilihat dari dalam ruang penginapan, kemudian menghabiskan waktu bersama, menjelajah tempat baru yang belum pernah kami datangi, dan tentunya akan memunculkan pengalaman baru yang bisa diceritakan kembali. Pengalaman yang bahagia pasti diinginkan semua orang,  tapi yang jelek juga jangan dibuang, dikenang saja agar bisa menjadi pribadi yang lebih kuat dalam menghadapi segala masalah di masa mendatang *apasih :D

Meski orangtua sedikit sibuk, tapi liburan keluarga tetap bisa terlaksana \\(^o^)// lumayan lama sih rentang waktunya, terhitung dari rencana (yang aku dan adikku buat) berlibur. Aku dan adikku menamakannya "Misi Liburan Akhir Pekan yang Bahagia" :p
Awalnya hanya iseng-iseng saja ingin pergi ke Yogyakarta, tapi ternyata dikabulkan oleh orang tua //senangnya dalam hati ~(^o^~)

Tepatnya bulan Desember tahun 2012 kami sekeluarga (ditambah keluarga Budhe) berangkat ke Yogyakarta. Saat itu ber-iringan naik dua mobil karena ada delapan orang (termasuk nenek). Berangkat dari Kota Blitar sekitar pukul 8 malam jadi di perjalanan, kami semua tidur lelap, tidak termasuk yang menyetir *yaiyalah!


Aku dan Ibu di penginapan di bawah kaki Gunung Merapi

#esok harinya..
Jengjeenng~ begitu aku bangun sudah sampai di Kaliurang, yaitu jalan menuju Gunung Merapi. Langsung saja kami mencari lokasi penginapan yang telah kami pesan secara online sebelumnya.
Daann.. sesuai dengan ekspektasi dan foto yang ditampilkan ketika memesan penginapan, tempatnya dekat dengan alam dan asri, ditambah lagi berada di dataran tinggi yang membuat udara sejuk serta tidak jauh dari Gunung Merapi, yaa meski kalau kesana harus naik kendaraan.


Pagi yang indah untuk memulai penjelajahan ke Gunung Merapi. Karena medannya yang cukup berat untuk bisa pergi ke sana, kami harus menyewa  mobil jeep. Perjalanan yang ditempuh kurang lebih sekitar satu jam dari tempat penginapan. Memang cukup dekat, tapi karena laju kendaraan sangat pelan makanya jadi lama. Dengan begitu, di sepanjang perjalanan bisa menikmati keindahan alam.


Bersama keluarga di Kaki Gunung Merapi

Banyak cerita dibalik foto. Untuk bisa sampai di bagian puncak, kami harus berdebat dahulu, ada yang setuju dan tidak untuk melanjutkan perjalanan hingga mendekati bagian kawah. Akhirnya perjalanan  tetap berlanjut dan tidak ada tempat yang tidak kami kunjungi, sesuai dengan arahan yang diberikan tour guide kami.

Batu alien salah satu daya tarik di Gunung Merapi

Di atas juga ada rumah Mbah Marijan yang disebut-sebut sebagai orang yang menjaga gunung, atau istilahnya adalah Juru Kunci Gunung Merapi. Saat evakuasi, beliau tidak mau meninggalkan rumah dan gunung yang dijganya. Namun takdir berkata lain, beberapa saat setelah terjadi erupsi Merapi beliau ditemukan dalam keadaan bersujud dan tidak bernyawa, sungguh besar pengorbanannya.

Salah satu rumah warga yang terkena erupsi Gunug Merapi

Banyak dari warga yang tinggal di sekitar lereng Gunung Merapi yang tidak sempat menyelamatkan benda-benda berharga miliknya karena harus segera berbondong-bondong pindah ke tempat evakuasi yang telah disediakan. Foto diatas adalah  bukti bahwa banyak barang meleleh terkena awan panas (wedhus gembel) Merapi. 

Adikku dan Pakdhenya :D

Seharian penuh kami menghabiskan waktu di Gunung Merapi. Setiap kegiatan yang kami lakukan selalu saja ada cerita yang menarik. 
Seperti misalnya ketika berada di perjalanan (naik mobil) obrolan singkat terjadi, dan usut punya usut sang sopir ternyata juga berasal dari kota yang sama dengan kami, dan telah bekerja selama beberapa tahun (mimin lupa :v) dan kerja sama dengan penginapan tersebut, yang akhirnya takdir mempertemukan kami :D

Cerita lainnya ketika membeli topi (yang dikenakan oleh dua model diatas) dan kaos di penjual souvenir, awal mulanya terjadi tawar menawar untuk mendapatkan harga murah, tapi kami menyerah karena penjual sangat getol mempertahankan harga. Ketika akan membayar, penjual bertanya dari mana asal kami, setelah mengetahui kalau kami datang dari Jawa Timur, tiba-tiba ia menurunkan harga dan bahkan masih diberi bonus berupa kue-kue yang dijualnya. 

Masih banyak lagi kejadian-kejadian yang jika dilogika, ternyata semua hal yang kita lakukan itu ada keterkaitannya dengan apa yang pernah kita lakukan di masa lalu maupun yang sedang kita lakukan sekarang. Beberapa peristiwa saling terhubung jika kita mau menelusuri dan berpikir kritis tentang hal itu, tidak sekedar membiarkannya berlalu begitu saja. 

Seperti halnya foto-foto dan video yang mimin abadikan ini, suatu saat akan menjadi sejarah yang sangat menarik untuk diceritakan kembali kepada anak cucu kelak :)













No comments:

Post a Comment

Tuesday, September 13, 2016

Merapi

Sudah lama kami ingin bepergian ke luar kota bersama keluarga pada akhir pekan, menginap di suatu tempat dengan pemandangan alam yang indah. Pemandangan yang dapat dilihat dari dalam ruang penginapan, kemudian menghabiskan waktu bersama, menjelajah tempat baru yang belum pernah kami datangi, dan tentunya akan memunculkan pengalaman baru yang bisa diceritakan kembali. Pengalaman yang bahagia pasti diinginkan semua orang,  tapi yang jelek juga jangan dibuang, dikenang saja agar bisa menjadi pribadi yang lebih kuat dalam menghadapi segala masalah di masa mendatang *apasih :D

Meski orangtua sedikit sibuk, tapi liburan keluarga tetap bisa terlaksana \\(^o^)// lumayan lama sih rentang waktunya, terhitung dari rencana (yang aku dan adikku buat) berlibur. Aku dan adikku menamakannya "Misi Liburan Akhir Pekan yang Bahagia" :p
Awalnya hanya iseng-iseng saja ingin pergi ke Yogyakarta, tapi ternyata dikabulkan oleh orang tua //senangnya dalam hati ~(^o^~)

Tepatnya bulan Desember tahun 2012 kami sekeluarga (ditambah keluarga Budhe) berangkat ke Yogyakarta. Saat itu ber-iringan naik dua mobil karena ada delapan orang (termasuk nenek). Berangkat dari Kota Blitar sekitar pukul 8 malam jadi di perjalanan, kami semua tidur lelap, tidak termasuk yang menyetir *yaiyalah!


Aku dan Ibu di penginapan di bawah kaki Gunung Merapi

#esok harinya..
Jengjeenng~ begitu aku bangun sudah sampai di Kaliurang, yaitu jalan menuju Gunung Merapi. Langsung saja kami mencari lokasi penginapan yang telah kami pesan secara online sebelumnya.
Daann.. sesuai dengan ekspektasi dan foto yang ditampilkan ketika memesan penginapan, tempatnya dekat dengan alam dan asri, ditambah lagi berada di dataran tinggi yang membuat udara sejuk serta tidak jauh dari Gunung Merapi, yaa meski kalau kesana harus naik kendaraan.


Pagi yang indah untuk memulai penjelajahan ke Gunung Merapi. Karena medannya yang cukup berat untuk bisa pergi ke sana, kami harus menyewa  mobil jeep. Perjalanan yang ditempuh kurang lebih sekitar satu jam dari tempat penginapan. Memang cukup dekat, tapi karena laju kendaraan sangat pelan makanya jadi lama. Dengan begitu, di sepanjang perjalanan bisa menikmati keindahan alam.


Bersama keluarga di Kaki Gunung Merapi

Banyak cerita dibalik foto. Untuk bisa sampai di bagian puncak, kami harus berdebat dahulu, ada yang setuju dan tidak untuk melanjutkan perjalanan hingga mendekati bagian kawah. Akhirnya perjalanan  tetap berlanjut dan tidak ada tempat yang tidak kami kunjungi, sesuai dengan arahan yang diberikan tour guide kami.

Batu alien salah satu daya tarik di Gunung Merapi

Di atas juga ada rumah Mbah Marijan yang disebut-sebut sebagai orang yang menjaga gunung, atau istilahnya adalah Juru Kunci Gunung Merapi. Saat evakuasi, beliau tidak mau meninggalkan rumah dan gunung yang dijganya. Namun takdir berkata lain, beberapa saat setelah terjadi erupsi Merapi beliau ditemukan dalam keadaan bersujud dan tidak bernyawa, sungguh besar pengorbanannya.

Salah satu rumah warga yang terkena erupsi Gunug Merapi

Banyak dari warga yang tinggal di sekitar lereng Gunung Merapi yang tidak sempat menyelamatkan benda-benda berharga miliknya karena harus segera berbondong-bondong pindah ke tempat evakuasi yang telah disediakan. Foto diatas adalah  bukti bahwa banyak barang meleleh terkena awan panas (wedhus gembel) Merapi. 

Adikku dan Pakdhenya :D

Seharian penuh kami menghabiskan waktu di Gunung Merapi. Setiap kegiatan yang kami lakukan selalu saja ada cerita yang menarik. 
Seperti misalnya ketika berada di perjalanan (naik mobil) obrolan singkat terjadi, dan usut punya usut sang sopir ternyata juga berasal dari kota yang sama dengan kami, dan telah bekerja selama beberapa tahun (mimin lupa :v) dan kerja sama dengan penginapan tersebut, yang akhirnya takdir mempertemukan kami :D

Cerita lainnya ketika membeli topi (yang dikenakan oleh dua model diatas) dan kaos di penjual souvenir, awal mulanya terjadi tawar menawar untuk mendapatkan harga murah, tapi kami menyerah karena penjual sangat getol mempertahankan harga. Ketika akan membayar, penjual bertanya dari mana asal kami, setelah mengetahui kalau kami datang dari Jawa Timur, tiba-tiba ia menurunkan harga dan bahkan masih diberi bonus berupa kue-kue yang dijualnya. 

Masih banyak lagi kejadian-kejadian yang jika dilogika, ternyata semua hal yang kita lakukan itu ada keterkaitannya dengan apa yang pernah kita lakukan di masa lalu maupun yang sedang kita lakukan sekarang. Beberapa peristiwa saling terhubung jika kita mau menelusuri dan berpikir kritis tentang hal itu, tidak sekedar membiarkannya berlalu begitu saja. 

Seperti halnya foto-foto dan video yang mimin abadikan ini, suatu saat akan menjadi sejarah yang sangat menarik untuk diceritakan kembali kepada anak cucu kelak :)













No comments:

Post a Comment

Search This Blog

Tuesday, September 13, 2016

Merapi

Sudah lama kami ingin bepergian ke luar kota bersama keluarga pada akhir pekan, menginap di suatu tempat dengan pemandangan alam yang indah. Pemandangan yang dapat dilihat dari dalam ruang penginapan, kemudian menghabiskan waktu bersama, menjelajah tempat baru yang belum pernah kami datangi, dan tentunya akan memunculkan pengalaman baru yang bisa diceritakan kembali. Pengalaman yang bahagia pasti diinginkan semua orang,  tapi yang jelek juga jangan dibuang, dikenang saja agar bisa menjadi pribadi yang lebih kuat dalam menghadapi segala masalah di masa mendatang *apasih :D

Meski orangtua sedikit sibuk, tapi liburan keluarga tetap bisa terlaksana \\(^o^)// lumayan lama sih rentang waktunya, terhitung dari rencana (yang aku dan adikku buat) berlibur. Aku dan adikku menamakannya "Misi Liburan Akhir Pekan yang Bahagia" :p
Awalnya hanya iseng-iseng saja ingin pergi ke Yogyakarta, tapi ternyata dikabulkan oleh orang tua //senangnya dalam hati ~(^o^~)

Tepatnya bulan Desember tahun 2012 kami sekeluarga (ditambah keluarga Budhe) berangkat ke Yogyakarta. Saat itu ber-iringan naik dua mobil karena ada delapan orang (termasuk nenek). Berangkat dari Kota Blitar sekitar pukul 8 malam jadi di perjalanan, kami semua tidur lelap, tidak termasuk yang menyetir *yaiyalah!


Aku dan Ibu di penginapan di bawah kaki Gunung Merapi

#esok harinya..
Jengjeenng~ begitu aku bangun sudah sampai di Kaliurang, yaitu jalan menuju Gunung Merapi. Langsung saja kami mencari lokasi penginapan yang telah kami pesan secara online sebelumnya.
Daann.. sesuai dengan ekspektasi dan foto yang ditampilkan ketika memesan penginapan, tempatnya dekat dengan alam dan asri, ditambah lagi berada di dataran tinggi yang membuat udara sejuk serta tidak jauh dari Gunung Merapi, yaa meski kalau kesana harus naik kendaraan.


Pagi yang indah untuk memulai penjelajahan ke Gunung Merapi. Karena medannya yang cukup berat untuk bisa pergi ke sana, kami harus menyewa  mobil jeep. Perjalanan yang ditempuh kurang lebih sekitar satu jam dari tempat penginapan. Memang cukup dekat, tapi karena laju kendaraan sangat pelan makanya jadi lama. Dengan begitu, di sepanjang perjalanan bisa menikmati keindahan alam.


Bersama keluarga di Kaki Gunung Merapi

Banyak cerita dibalik foto. Untuk bisa sampai di bagian puncak, kami harus berdebat dahulu, ada yang setuju dan tidak untuk melanjutkan perjalanan hingga mendekati bagian kawah. Akhirnya perjalanan  tetap berlanjut dan tidak ada tempat yang tidak kami kunjungi, sesuai dengan arahan yang diberikan tour guide kami.

Batu alien salah satu daya tarik di Gunung Merapi

Di atas juga ada rumah Mbah Marijan yang disebut-sebut sebagai orang yang menjaga gunung, atau istilahnya adalah Juru Kunci Gunung Merapi. Saat evakuasi, beliau tidak mau meninggalkan rumah dan gunung yang dijganya. Namun takdir berkata lain, beberapa saat setelah terjadi erupsi Merapi beliau ditemukan dalam keadaan bersujud dan tidak bernyawa, sungguh besar pengorbanannya.

Salah satu rumah warga yang terkena erupsi Gunug Merapi

Banyak dari warga yang tinggal di sekitar lereng Gunung Merapi yang tidak sempat menyelamatkan benda-benda berharga miliknya karena harus segera berbondong-bondong pindah ke tempat evakuasi yang telah disediakan. Foto diatas adalah  bukti bahwa banyak barang meleleh terkena awan panas (wedhus gembel) Merapi. 

Adikku dan Pakdhenya :D

Seharian penuh kami menghabiskan waktu di Gunung Merapi. Setiap kegiatan yang kami lakukan selalu saja ada cerita yang menarik. 
Seperti misalnya ketika berada di perjalanan (naik mobil) obrolan singkat terjadi, dan usut punya usut sang sopir ternyata juga berasal dari kota yang sama dengan kami, dan telah bekerja selama beberapa tahun (mimin lupa :v) dan kerja sama dengan penginapan tersebut, yang akhirnya takdir mempertemukan kami :D

Cerita lainnya ketika membeli topi (yang dikenakan oleh dua model diatas) dan kaos di penjual souvenir, awal mulanya terjadi tawar menawar untuk mendapatkan harga murah, tapi kami menyerah karena penjual sangat getol mempertahankan harga. Ketika akan membayar, penjual bertanya dari mana asal kami, setelah mengetahui kalau kami datang dari Jawa Timur, tiba-tiba ia menurunkan harga dan bahkan masih diberi bonus berupa kue-kue yang dijualnya. 

Masih banyak lagi kejadian-kejadian yang jika dilogika, ternyata semua hal yang kita lakukan itu ada keterkaitannya dengan apa yang pernah kita lakukan di masa lalu maupun yang sedang kita lakukan sekarang. Beberapa peristiwa saling terhubung jika kita mau menelusuri dan berpikir kritis tentang hal itu, tidak sekedar membiarkannya berlalu begitu saja. 

Seperti halnya foto-foto dan video yang mimin abadikan ini, suatu saat akan menjadi sejarah yang sangat menarik untuk diceritakan kembali kepada anak cucu kelak :)













No comments:

Post a Comment

Tuesday, September 13, 2016

Merapi

Sudah lama kami ingin bepergian ke luar kota bersama keluarga pada akhir pekan, menginap di suatu tempat dengan pemandangan alam yang indah. Pemandangan yang dapat dilihat dari dalam ruang penginapan, kemudian menghabiskan waktu bersama, menjelajah tempat baru yang belum pernah kami datangi, dan tentunya akan memunculkan pengalaman baru yang bisa diceritakan kembali. Pengalaman yang bahagia pasti diinginkan semua orang,  tapi yang jelek juga jangan dibuang, dikenang saja agar bisa menjadi pribadi yang lebih kuat dalam menghadapi segala masalah di masa mendatang *apasih :D

Meski orangtua sedikit sibuk, tapi liburan keluarga tetap bisa terlaksana \\(^o^)// lumayan lama sih rentang waktunya, terhitung dari rencana (yang aku dan adikku buat) berlibur. Aku dan adikku menamakannya "Misi Liburan Akhir Pekan yang Bahagia" :p
Awalnya hanya iseng-iseng saja ingin pergi ke Yogyakarta, tapi ternyata dikabulkan oleh orang tua //senangnya dalam hati ~(^o^~)

Tepatnya bulan Desember tahun 2012 kami sekeluarga (ditambah keluarga Budhe) berangkat ke Yogyakarta. Saat itu ber-iringan naik dua mobil karena ada delapan orang (termasuk nenek). Berangkat dari Kota Blitar sekitar pukul 8 malam jadi di perjalanan, kami semua tidur lelap, tidak termasuk yang menyetir *yaiyalah!


Aku dan Ibu di penginapan di bawah kaki Gunung Merapi

#esok harinya..
Jengjeenng~ begitu aku bangun sudah sampai di Kaliurang, yaitu jalan menuju Gunung Merapi. Langsung saja kami mencari lokasi penginapan yang telah kami pesan secara online sebelumnya.
Daann.. sesuai dengan ekspektasi dan foto yang ditampilkan ketika memesan penginapan, tempatnya dekat dengan alam dan asri, ditambah lagi berada di dataran tinggi yang membuat udara sejuk serta tidak jauh dari Gunung Merapi, yaa meski kalau kesana harus naik kendaraan.


Pagi yang indah untuk memulai penjelajahan ke Gunung Merapi. Karena medannya yang cukup berat untuk bisa pergi ke sana, kami harus menyewa  mobil jeep. Perjalanan yang ditempuh kurang lebih sekitar satu jam dari tempat penginapan. Memang cukup dekat, tapi karena laju kendaraan sangat pelan makanya jadi lama. Dengan begitu, di sepanjang perjalanan bisa menikmati keindahan alam.


Bersama keluarga di Kaki Gunung Merapi

Banyak cerita dibalik foto. Untuk bisa sampai di bagian puncak, kami harus berdebat dahulu, ada yang setuju dan tidak untuk melanjutkan perjalanan hingga mendekati bagian kawah. Akhirnya perjalanan  tetap berlanjut dan tidak ada tempat yang tidak kami kunjungi, sesuai dengan arahan yang diberikan tour guide kami.

Batu alien salah satu daya tarik di Gunung Merapi

Di atas juga ada rumah Mbah Marijan yang disebut-sebut sebagai orang yang menjaga gunung, atau istilahnya adalah Juru Kunci Gunung Merapi. Saat evakuasi, beliau tidak mau meninggalkan rumah dan gunung yang dijganya. Namun takdir berkata lain, beberapa saat setelah terjadi erupsi Merapi beliau ditemukan dalam keadaan bersujud dan tidak bernyawa, sungguh besar pengorbanannya.

Salah satu rumah warga yang terkena erupsi Gunug Merapi

Banyak dari warga yang tinggal di sekitar lereng Gunung Merapi yang tidak sempat menyelamatkan benda-benda berharga miliknya karena harus segera berbondong-bondong pindah ke tempat evakuasi yang telah disediakan. Foto diatas adalah  bukti bahwa banyak barang meleleh terkena awan panas (wedhus gembel) Merapi. 

Adikku dan Pakdhenya :D

Seharian penuh kami menghabiskan waktu di Gunung Merapi. Setiap kegiatan yang kami lakukan selalu saja ada cerita yang menarik. 
Seperti misalnya ketika berada di perjalanan (naik mobil) obrolan singkat terjadi, dan usut punya usut sang sopir ternyata juga berasal dari kota yang sama dengan kami, dan telah bekerja selama beberapa tahun (mimin lupa :v) dan kerja sama dengan penginapan tersebut, yang akhirnya takdir mempertemukan kami :D

Cerita lainnya ketika membeli topi (yang dikenakan oleh dua model diatas) dan kaos di penjual souvenir, awal mulanya terjadi tawar menawar untuk mendapatkan harga murah, tapi kami menyerah karena penjual sangat getol mempertahankan harga. Ketika akan membayar, penjual bertanya dari mana asal kami, setelah mengetahui kalau kami datang dari Jawa Timur, tiba-tiba ia menurunkan harga dan bahkan masih diberi bonus berupa kue-kue yang dijualnya. 

Masih banyak lagi kejadian-kejadian yang jika dilogika, ternyata semua hal yang kita lakukan itu ada keterkaitannya dengan apa yang pernah kita lakukan di masa lalu maupun yang sedang kita lakukan sekarang. Beberapa peristiwa saling terhubung jika kita mau menelusuri dan berpikir kritis tentang hal itu, tidak sekedar membiarkannya berlalu begitu saja. 

Seperti halnya foto-foto dan video yang mimin abadikan ini, suatu saat akan menjadi sejarah yang sangat menarik untuk diceritakan kembali kepada anak cucu kelak :)













No comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.

Blog Archive

Adress/Street

12 Street West Victoria 1234 Australia

Phone number

+(12) 3456 789

Website

www.johnsmith.com